Dialek Sunda dan Jawa

Dialek Sunda dan Jawa
Wahyu Adi Nugroho
16410082
3B PBSI UPGRIS
macankota88@gmail.com

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Kita tahu bahwa di banyak daerah dan kota, terdapat orang-orang yang memakai bahasa yang berlainan. Bisa juga terdapat orang-orang yang memakai lebih dari satu bahasa. Bangsa Indonesia cenderung menguasai dua bahasa atau lebih, bahasa Indonesia digunakan apabila mereka berkomunikasi antar suku dan situasi resmi, sedangkan jika berada di dalam lingkungan keluarga atau sukunya, mereka berkomunikasi dengan bahasa daerahnya masing-masing seperti bahasa Jawa, Sunda, Lombok, Madura, Bali, dan Sebagainya.
Fenomena bilingualis merupakan pokok kajian yang menarik, bukan saja karena aspek teorinya, melainkan juga aspek aplikasinya dalam kenyataan penggunaan bahasa. Contoh konkretnya pun dapat ditemukan pada salah seorang mahasiswi yang sedang menempuh perkuliahan di Universitas PGRI Semarang. Sejak dia lahir sampai memasuki usia remaja yakni masa SMP, dia tinggal di wilayah Jawa Barat, tepatnya berada di daerah Halimun, Cikalong Kulon, Cianjur Jawa Barat. Tetapi karena suatu hal akhirnya ia pindah keJawa Tengah yakni di Perumnas Katonsari, Demak dan memilih melanjutkan perkuliahan di daerah Semarang.
Berpijak dari kerangka diatas, maka dalam artikel ini dibahas tentang penggunaan bilingualisme berdasarkan fakta yang real dan benar terjadi dalam keseharian mahasiswi tersebut, tentang bahasa yang di pergunakan baik dalam perkuliahan, ketika berada dalam lingkungan kos, maupun ketika berbicara dengan orang tuanya di rumah.

A.    Rumusan Masalah
Dengan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah wujud serta konsep yang terkait dengan penggunaan bilingualisme pada mahasisi Universitas PGRI Semarang?
2.      Bagaimana penggunaan B1 dapat mempengaruhi B2-nya menyangkut masalah kefasihan??

B.     Tujuan
Dari rumusan masalah diatas dapat diambil beberapa tujuan antara lain:
1.      Untuk mengetahui wujud serta konsep bilingualisme.
2.      Untuk mengetahui sejauh mana B1 dapat mempengaruhi B2-nya menyangkut masalah kefasihan.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Konsep Umum Bilingualisme
Konsep umum bilingualisme adalah digunakannya dua buah bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian menimbulkan sejumlah masalah yang biasa dibahas kalau orang membicarakan bilingualisme.
Masalah-masalah itu adalah (lihat juga Dittmar 1976:170) :
1)      Sejauh mana taraf kemampuan seseorang akan B2 (B1 tentunya dapat dikuasai lebih baik) sehingga dia dapat disebut sebagai seorang yang bilingual?
2)      Kapan seorang bilingual menggunakan kedua bahasa itu secara bergantian? Kapan dia harus menggunakan B1-nya, dan kapan pula harus menggunakan B2-nya? Kapan pula dia dapat secara bebas untuk dapat menggunakan B1-nya dan B2-nya?
3)      Apakah bilingualisme itu berlaku pada perseorangan (seperti disebut dalam konsep umum) atau juga berlaku pada satu kelompok masyarakat tutur?

Dari konsep yang telah dijelaskan diatas dapat kita jelaskan lebih mendalam berikut dibawah ini :

Pada pembahasan kali ini akan dijelaskan mengenai seorang mahasiswi yang sedang menempuh perkuliahan disebuah Universitas di Semarang, yakni Universitas PGRI Semarang. Sejak kecil, ia memang bertempat tinggal di daerah Halimun, Cikalong Kulon, Cianjur, Jawa Barat. Namun saat ia berpindah tempat tinggal, maka pendidikan selanjutnya pun menjadi berpindah tempat.
Beradaptasi dengan lingkungan baru pun tidak gampang untuk dilakukan, apalagi terkait dengan penggunaan bahasa yang akan dipergunakan saat berkomunikasi di lingkungan yang baru. Tentu melalui suatu proses untuk dapat melakukannya. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa kita membutuhkan waktu yang lama untuk dapat bisa berkomunikasi dengan baik.
Karena mahasiswi tersebut sejak kecil tinggal di wilayah sunda dan bahasa yang dapat dikuasai dengan baik adalah bahasa Sundanya. Ia menjadikan bahasa Sunda sebagai bahasa Ibu atau B1. Sedangkan ketika ia menjalani perkuliahan ia menggunakan bahasa Indonesia sebagai B2-nya.

Berikut contoh penggunaan B1 yang dilakukan oleh mahasiswi tersebut saat ia sedang berkomunikasi dengan keponakan yang umurnya sebaya dengannya yang bertempat tinggal di Cianjur via telepon Whatsapp.

Dian       : “Santy, Assalamualaikum.”
Santy      : “Waalaikumsalam. Tehh”
Dian       : “Santy kumaha damang?”
Santy      : “Hallo?”
Dian       : “Hallo, Santy kumaha damang?”
Santy      : “Alhamdulillah damang, cumin rada-rada flu iyeu tehh nyaeta.”
Dian       : “Kunaon attuh?”
Santy      : “Kumaha attuh tehh ian?”
Dian       : “Nya teteh geu damang didieu.”
Santy      : “Emm… Nuju naon attuh tehh ian?”
Dian       : “Nuju gogoleran we. Santy nuju naon?”
Santy      : “Kumaha attuh kuliahna? Lancar?
Dian       : “Lancar Alhamdulillah. Santy nuju naon?”
Santy      : “Sami, nuju gogoleran. Eunjing mah teu aya kuliah pan.”
Dian       : “Libur lin?”
Santy      : “Acan engkin minggu ayeuna merenan. Minggu tenangna. Libur kan Jumat Sabtu besok, ehh isukanmah.”
Dian       : “Santy Teu acan UAS lin?”
Santy      : “UAS weu tanggal 2. Tehh ian iraha UASna? Tanggal sabaraha?”
Dian       : “Tetehh geu UAS tanggal 2 sugan tanggal 2.”
Santy      : “Tanggal sabaraha?”
Dian       : “Tanggal 2 Januari.”
Santy      : “Ohh sami berarti nya, Terus kumaha attuh ieu tehh liburan moal ka Cianjur?”
Dian       : “Insyallah, keur dipikir-pikir heula ku teteh geu.”


(Kemudian tiba-tiba sambungan via whatsapp terganggu dan tut..tut.tut.tutt)
Dian       : “Hallo?”
Santy      : “Didieu mereun sinyalna gote.”
Dian       : “He.eh ieu geu teteh WIFIan.”
Santy      : “Pantesan attuh. Ari simamah kumaha sehat?”
Dian       ; “Sehat alhamdulillah si mamah. Didinya kumaha attuh bibi?”
Santy      : “Sarua sami Alhamdulillah sehat. Ayeunamah pan mamah geu buka warung.”

(Kemudian setelah percakapan itu selesai dilontarkan, karena terganggu oleh sinyal. Akhirnya sambungan pun terputus).

Begitulah sekilas percakapan yang dilakukan oleh mahasiswi yang sedang berkomunikasi dengan saudaranya menggunakan B1-nya. Saat sedang berkomunikasi tampak masih sangat baik penguasaan bahasa Ibu tersebut meskipun ia sudah tak tinggal di daerah Cianjur lagi. Namun kerena banyak keluarga yang tinggal di daerah Cianjur membuatnya masih terus mempertahankan bahasa Ibu tersebut atau B1-nya.
Kemudian berbeda lagi saat ia sedang menempuh perkuliahan di Universitas PGRI Semarang. Bahasa Ibu atau B1 tersebut tidak mungkin digunakan olehnya untuk berkomunikasi dengan teman-teman yang sebagian besar memang banyak dari daerah Jawa itu sendiri. Pada akhirnya pun ia lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia sebagai B2-nya. Itu pun dimaksudkan agar sebagian orang memahami dan dapat berkomunikasi dengan mudah dengan orang yang berbeda-beda asalnya.
Bahasa Indonesia memang merupakan  bahasa Nasional dimana tentunya bagi sebagian orang pun memahami bahasa tersebut, meskipun mereka berasal dari asal-usul yang berbeda. Tapi dengan bahasa pemersatu bangsa tersebut komunikasi dapat berjalan dengan lancar.
Mahasiswi tersebut dapat dikatakan sudah cukup lama tinggal di daerah Perumnas Katon Sari, Demak. Tentu ia pun sedikit demi sedikit mampu berbahasa Jawa atau bahasa khas daerah tersebut. Tetapi memang tidak dipungkiri bahwa penggunaan bahasa tersebut masih belum lancar digunakan.

Berikut ini percakapan bahasa daerah khas Jawa digunakan olehnya saat ia berkomunikasi dengan salah satu temannya via telepon.

Dian       : “Assalamualaikum.”
Adi         : “Waalaikumsalam. Koe lagi opo yan?”
Dian       : “Iki aku lagi bar maem di, koe wis maem?”
Adi       : “Uwis yan, aku wis maem ndek mau neng kampu. Sedino iki aku sibuk banget         kegiatan nang kampus.”
Dian       : “La meh ono acara opo emange?”
Adi        : “Acara PEMIRA kui hlo minggu ngarep. Kan kudune ket saiki wis mulai disiapno opo sing emang dibutuhke kanggo acara kui mau. Koe ora melu panitia?”
Dian       : “Ora di, aku ora melu kepanitiaan.”
Adi         : “Oalah, pantesan koe ora sibuk koyo aku ngene ki.
Dian       : “Iyo sing penting koe sing biso jogo kesehatanmu. Ojo kekeselen ya?”
Adi         : “Okesiap. Aku bakal jogo kesehatan soale iki musime juga ning awak gawe ora kepenak. Dadi kudu biso jogo kesehatan. Mergo kesehatan kui penting.”
Dian       : “Yowes yo, aku ameh ngerjakno tugas disik.”
Adi         : “Ohh, oke oke monggo.”
Dian       : “Tak tutup ya telephone? Salamualaikum.”
Adi         : “Waalaikumsalam.”

Begitulah percakapan atau pembicaraan sederhana yang dilakukan via telepon yang dapat disebut bilingual. Bahasa Jawa yang dikuasai tersebut belumlah sebanyak yang ia kuasai seperti bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Ia hanya mampu menguasai bahasa Jawa yang sederhana saja. Mungkin disebabkan juga karena ia belum lama tinggal atau bahkan menetap seperti saat ia yang sejak lahir dan bahkan ketika mencapai umur dewasa penggunaan bahasa yang diketahui hanyalah bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. Serta dialek-dialek dalam bahasa jawa yang sebenarnya banyak yang harus diketahui ia belum menguasainya. Dan jika ia belajar pun akan sulit untuk memahaminya. Karena bahasa Jawa yang ia terima merupakan bahasa kesekian dibandingkan dengan bahasa Sunda yang merupakan B-1nya.



B.     Sejauh mana B1 dapat mempengaruhi B2-nya.

Kita berasumsi penguasaan terhadap Bi oleh seorang bilingual adalah lebih baik daripada penguasaannya terhadap B2, sebab B1 adalah bahasa Ibu, yang dipelajari  dan digunakan sejak kecil dalam keluarga;sedangkan B2-nya adalah bahasa yang baru digunakan setelah menguasai B1-nya.
Penutur bilingual Sunda (B1) – Indonesia (B2) yang kurang menguasai sistem fonologi bahasa Indonesia akan mengucapkan kata-kata bahasa Indonesia akan mengucapkan kata bahasa Indonesia /kemana/, /kata/, dan /berapa/ menjadi /kamana/, /kata?/, dan /sabaraha/. Kekurang fasihan seorang penutur bilingual terhadap B2, sehingga B2-nya sering dipengaruhi oleh B1-nya lazim terjadi pada para penutur yang sedang mempelajari B2 itu (Nababan 1984:32).




 BAB III

PENUTUP

A.    SIMPULAN
Jika B1 si penutur adalah bahasa Sunda, maka dia akan dapat menggunakan bahasa Sunda dengan semua anggota masyarakat tutur yang berbahasa sunda, tentunya untuk keadaan dan situasi yang memang dapat dilakukan dengan bahasa Sunda itu, seperti dalam percakapan dengan keluarga untuk topic pembicaraan yang biasa. Tetapi didalam pendidikannya di Perguruan Tinggi B1 tidak dapat digunakan untuk alat interaksi selama jam pelajaran berlangsung. Dalam hal ini hanya bahasa Indonesialah yang dapat digunakan. Kemudian tidak menutup kemungkinan baha ada bahasa lain yang dapat digunakan terlebih jika mahasiswi yang telah dijelaskan tadi pun telah mulai tinggal di Semarang. Maka sedikit demi sedikit bahasa Semarang pun dapat digunakannya meskipun tidak sefasih saat ia menggunakan bahasa Sunda (B1) dan bahasa Indonesia (B2).
Dari penjelasan diatas telah terlihat baha kapan B1 harus digunakan dan kapan B2 harus digunakan pula tergantung pada lawan bicara, topic pembicaraan, dan situasi sosial pembicaraan. Jadi penggunaan B1 dan B2 tidaklah bebas. Oleh karena itu, dalam kasus penutur bilingual Sunda – Indonesia barangkali memang ada topik dan situasi tutur yang memberi kebebasan untuk menggunakan salah satu bahasa itu.

B.     Saran
Digunakannya dua bahasa atau lebih oleh seorang atau kelompok dengan tidak adanya peranan tertentu dari kedua bahasa itu.Artinya, kedua bahasa itu dapat digunakan kepada siapa saja, kapan saja, dan dalam situasi bagaimana saja. Pemilihan bahasa mana yang harus digunakan tergantung pada kemampuan si pembicara dan laan bicaranya.







DAFTAR PUSTAKA



Chaer, Abdul. Leoni Agustina.2010.Sosiolingustik.Jakarta:Rineka Jaya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Variasi Bahasa yang Terdapat pada Masyarakat Kota Ambon Maluku dan Kota Tual Maluku Tenggara”

Analisis Ejaan Pada Surat Dinas di Balai Desa Wonotenggang Rowosari Kendal

Variasi Penggunaan Volume Bahasa pada Mayarakat Pegunungan dan Masyarakat Pesisir